Malam telah berlalu, membiarkan angin subuh membelai lembut wajahku yang baru saja terlelap dengan mata bengkak. Mentari pagi tak henti membangunkanku lewat pancaran sinarnya yang menembus di sela-sela tirai kamar. Kumeringkuk dalam sebuah selimut tebal yang semalaman telah memberikan hangat pada tubuhku. Seketika rasa sesak kembali kurasakan. Tiada hal yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang sudah terjadi akhir akhir ini. kupikir saat malam telah berlalu, sesak ini tak lagi kurasa, luka ini tak akan lagi sehebat yang kurasakan waktu itu. Nyatanya semua masih sama. Masih kuabaikan ketukan pintu yang sedari tadi menggangguku. Mana bisa aku keluar dengan mata yang sembab? Perlahan aku bangkit sambil lalu merapikan kamar yang hampir menyerupai kapal pecah.
Setelah sekian lama mematung di depan cermin, kembali kutatap wajah mencari sesuatu yang kurang dari make up yang kupoles di wajah. Kuambil celak dan memakainya agar mataku tak begitu terlihat sembab. Walau kenyataannya siapapun nantinya yang melihatku akan dengan mudah menyimpulkan bahwa semalam aku menangis hebat sampai mataku terasa berat. Dan semua benar-benar terjadi. Ketika aku sudah sampai di ruang makan, kak Zafa saudara perempuanku langsung menanyakan sesuatu yang sudah kupikirkan sejak tadi.
“Kenapa menangis? Ada apa?”
“Aku baik baik saja. tadi hanya kelilipan doang” jawaban konyol.
Sulit untuk membuatnya percaya. Kak Zafa masih memberikan beberapa pertanyaan, alhasil karena moodku hari ini sedang bermasalah, kubiarkan saja pertanyaan itu mengawang di seluruh ruangan.
Aku berjalan gontai saat telah tiba di taman. Kubiarkan hujan mengguyur tubuhku. Menghapus sesak dalam hatiku. Perlahan tubuhku terjatuh lemas, terisak di antara tetesan hujan dan deru angin yang menerpaku. Seseorang menyampirkan jasnya, aroma parfumnya yang melekat membuatku tercengang. Ia mengangkat tubuhku meski sudah beberapa kali kutepis. Tubuhku yang mungil mana bisa bertahan terlalu lama, sementara ia lebih kuat dariku. Ia membopong tubuhku, setengah berlari melewati derasnya hujan.
“Dasar bocah. Ngapain kamu hujan hujanan? Tuh kamu jadi basahkan” ucapnya, sambil mengibas ibaskan bajunya yang basah.
Memandangnya membuatku semakin terluka. Walau di sisi lain aku ingin berhambur ke dalam pelukan hangatnya. Aku ingin menumpahkan segala yang kurasakan hari ini. namun ia lebih dulu memelukku, mengusap lembut rambutku. Kutarik diri, mencoba megambil langkah untuk sesegera mungkin pergi dari hadapannya. Lagi lagi aku gagal. Dia menahan lenganku dan kembali merangkulku.
“Tetaplah disini, jangan pernah berusaha untuk pergi dariku”
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh pergi darimu?” kutatap matanya, menahan isak sampai membuat dadaku sesak.
Berulang kali ia mengatakan bahwa masih mencintaiku dan akan selalu memperjuangkanku. Apa dayaku? Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku tidak ingin hatiku lagi-lagi ia patahkan. Walau kutahu tidak mungkin ia akan melakukan ini padaku. Keluarganya yang tidak pernah merestuiku, membuat kita sering kali terluka, bahkan kerap kali dilanda persoalan yang membuat kita harus saling mengalah, sekedar menepis ego masing-masing demi mempertahkan hubungan ini. Sekuat mungkin kuberlalu mengabaikan ia yang masih meneriakkan namaku. Kuberlari menumpahkan segala air mata pada hujan yang semakin deras megguyur segala luka dan memori tentang dia. “Salahkah aku bila masih mencintaimu? sedang hatiku masih tak bisa berpaling dari bayangmu” ujarku dalam hati sembari meyeka sisa air mata.
***
Dua bulan berlalu. Beberapa notifikasi Whatsapp darinya hanya sekedar kubaca. Beberapa kali ia datang ke rumah untuk menemuiku, namun terpaksa harus kuabaikan. Dan akan kulihat ketika ia sudah di depan gerbang untuk pulang. Setidaknya sedikit mengobati rindu padanya. Egois? Kurasa memang sebaiknya begini saja. Aku ingin dia bisa membenciku, menghapus sedikit demi sedikit rasa di hatinya akan diriku. Setengah sampai satu bulan, dia tidak lagi mendatangi rumahku, tentu saja aku sangat merindukannya.
Kususuri jalan kota yang bising. Kerap kali pengendara lalu lalang membelah jalan. Membawaku pada tempat yang amat kurindukan. Di taman ini, segala kisah kususun rapi bersama Dafa. Sebisa mungkin kupakai topeng senyum dan beberapa kali mnecoba menguatkan diri dan hati untuk bisa menepis segala perasaan yang ada dihati. Aku ingin mengubur semua tentangnya. Semua memori indah yang sudah kita lewati bersama. Meski aku harus menjadi semunafik, mungkin dalam merapikan rasa yang begitu dalam, tentang dia yang begitu kucintai dengan sepenuh hati.
“Aya” panggil seseorang dari belakang. Suara yang sangat kurindukan. Tubuhku gemetar, kuremas telapak tangan, aku ingin pergi secepat mungkin, akan tetapi entah megapa kakiku seolah kaku untuk melangkah. Sampai ia berhasil meraih tanganku. Membalikkan tubuhku dan kembali pada tatapan mata yang sayu. Tak seindah mata yang biasa kutatap seperti dulu. Aku berhasil memberinya senyum walau debar di dada begitu hebat, menyita banyak kata yang akan kusampaikan padanya.
“Dafa, senang bertemu denganmu, tapi maaf aku harus pergi” tanganku berhasil lepas dari genggamannya.
“Apakah kamu masih mencintaiku?” ujarnya, membuat langkahku terhenti.
Kumengerjap ejapkan mata agar tidak ada tetesan bening yang kembali jatuh. Kupalingkan tubuh dan tersenyum. “Tentu saja tidak” jawabku, menghentakkan kaki agar tetap rileks walau hatiku berkecamuk hebat.
“Secepat itu?” ia mengerutkan keningnya. “Kenapa? Sedangkan aku tidak mudah melupakanmu. Aku masih saja mencintaimu. Sangat mencintaimu.”
“Dan aku tidak perduli itu” responku yang hampir saja terbata.
Kembali kumelangkah sebelum aku terisak di depannya. Aku hanya ingin dia membenciku. Biarkan aku saja yang masih meyimpan semua rasa ini. Kamu sudah cukup terluka Fa, kamu harus bahagia. Kataku lirih.
Kuberteriak sekuat mungkin untuk melepas segalanya. Kututupi wajah degan telapak tangan. Haruskah sesakit ini? Kupikir semua akan terasa indah, nyatanya kembali membuatku patah. Saat semua yang kupikir akan menjadi nyata ternyata justru sebaliknya. Hanya ilusi yang tak kunjung menepi menjadi sesuatu yang berarti. Ya, harusnya begitu.
“Menangislah, tidak perlu membohongi dirimu sendiri.” Ia mengikutiku, sampai disini.
Saat kulihat ke arahnya, ia sudah lebih tenang dari sebelumnya. Ia menghampiriku, memintaku bersandar di bahunya. Disini, kurasakan kembali kehangatan saat bersamanya. Tiada lagi isak tangis yang kututupi darinya. Bersama kita menenangkan diri mencoba mencari solusi terbaik atas segala sesuatu yang datang dan menerpa cerita diantara kita.
Kita mengambil langkah yang terbaik walau kenyataannya sangat pahit untuk kita terima,untuk kita jalani. Lima tahun aku dan Dafa merangkai kisah penuh liku. Lima tahun pula kita menjalani kisah yang tak pernah kita dapatkan restu dari keluarganya. Beberapa kali kita dipatahkan sampai akhirnya kita sampai pada puncak untuk saling melepaskan. Mengikhlaskan adalah salah satu cara dari mencintai. Kita hanya sebatas dua insan yang saling mencintai kemudian berusaha untuk bisa saling memiliki. Namun siapa sangka? ternyata kita hanya bisa sampai disini. Melepaskan kemudian berusaha untuk mengikhlaskan semua yang sudah terjadi.
Kita dipatahkan oleh sesuatu yang sama sekali tidak kita lakukan. Semua murni karena tiada restu yang bisa menyatukan kita. Aya dan Dafa. Aku harus menjalani hari baru tanpan adanya dia. Begitupun degan dia yang mesti menjalani hari baru tanpa adanya aku. Kita sepakat untuk saling melepaskan untuk sama sama fokus dan mengejar sesuatu yang kita impikan. Aku meneruskan kuliahku di sini sementara Dafa akan meneruskan S2 nya di Malang. Jarak dan waktu akan mengembalikan semuanya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jikalau segala pengorbanan sudah tidak lagi bisa membuat kita tetap mempertahankan semua ini, maka melepaksan adalah cara terbaik untuk kita kembali menyulam mimpi yang sempat terhenti.
*Penulis lahir di Sumenep pada 24 Februari 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di STKIP Sumenep, prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia. Ia merupakan salah satu Alumni Zainussalim. Kecintaannya pada dunia literasi dimulai sejak masih duduk dibangku sekolah (MI) sampai saat ini. beberapa karyanya sudah pernah diterbitkan di media, Buletin dan Majalah. Karya yang sudah terbit adalah Novel dengan judul “Payung Cinta”, saat ini tengah proses Novel kedua sekaligus Antologi puisi.












