Sarwa
1/
Sudah menjadi bumbu, setiap ada orang berpulang
Kami senantiasa berbondong-bondong mendekati rumah duka.
menyumbat hujan air mata terlalu basah
Dengan mantra di malam sunyi degup jantung kata-kata.
2/
Kami bersilah rapi seperti bait puisi
Membaca sajak ilahi dengan kepala menggeleng seiring putaran tasbih
Merayu Tuhan agar famili tegar hati melepas diksi pergi.
3/
Mantra semakin menyala seiring harum kemenyan menyetubuhi dada
Ada harap agar orang yang berpulang
Berteduh di rumah Tuhan dengan angin yang mencium kening juga celah_celah kaca.
4/
Mantrapun kami kash noktah,
Kepul asap kemenyan mulai purba
Kami menjabat hangat tangan keluarga duka.
Menguatkan semangat, mengebalkan ikhlas, melahirkan keyakinan bahwa yang berpulang pasti nyaman, tenang, bercengkrama bersama Tuhan.
Longos,2021
Luka Desember
Tak ada yang lebih indah dari berjumpa kenangan
Dan bertandang ke rumah khayalan.
Anggap saja perjalanan panjang adalah
Musyafir memperkenalkan syair-syair yang baitnya
Menyimpan angka-angka tua di beberapa kalender pecah.
Ma, bila Januari datang,
Katakan, bahwa telah usai kuhapus kenangan.
Telah sembuh luka di setiap tanggalnya.
Tinggal kita harus pandai meresapi perih nan lihai
Mengumpat diri dalam sepi, dalam sunyi yang hakiki.
Longos,2021
Tak Ada Yang Menarik Dalam Puisiku
Tak ada yang menarik dalam larik puisiku
Seperti hujan yang lahir di rahimnya
Atau seperti dendang gendang yang ditabuh tepat di jantungnya,
Semua biasa saja.
Kenapa kau masih baca?
Bukankah bait pertama kau tahu itu luka?
Bait kedua luka, bait ketiga masih luka
Dan bait kesekian,
Tetap tentang luka melukai luka.
Ah, sudah kubilang tak ada yang menarik pada larik puisiku.
Longos, 2021

*Abd. Wafi mm lahir di Desa Longos pada 16 April 2001. Merupakan anak tunggal dari pasangan yang penuh keromantisan. Mengenal puisi sejak bergabung di komunitas ASAP. Sekarang merupakan mahasiswa aktif STKIP PGRI Sumenep semester 1.












