Senyuman di Atas Penderitaan Orang Lain

0
1636
Ilustrasi by id.pinterest.com

Oleh: Ach. Basri

Senyuman merupakan bagian dari ibadah. Istilah itu selalu ku dengar. Namun, lantas bagaimana ketika senyuman yang selalu kita lontarkan setiap hari, justru bisa membuat hati orang lain terluka?

*Ini kisahku*

Namaku M. Zafran. Aku masih bujang, masih duduk di kelas III SMK. Dua bulan lalu aku baru saja putus dengan pacarku. Sekarang, luka itu masih dalam proses pemulihan. Selepas putus dengannya, aku membangun sebuah komitmen dalam hidupku, “Aku tidak akan pacaran lagi, tapi aku akan menikah setelah lulus kuliah nanti”. Kataku dalam hati.

Namun tak lama kemudian, komitmen yang baru saja ku bangun malah lebur. Aku kembali terbuai oleh cinta “Ya, aku jatuh cinta kembali” entah sudah untuk yang keberapa kalinya aku kembali dikalahkan oleh cinta. Walau sudah dihadapkan dengan rasa pahit berkali kali, kali ini aku kembali jatuh dalam hasrat mencintai. Bahkan luka dari perpisahan 2 bulan yang lalu aku tak yakin apa itu sudah benar benar pulih. Tapi tetap saja, apa yang harus ku perbuat? Aku tak pernah meminta untuk jatuh cinta kembali pada Tuhan. Tapi hati ini yang memutuskan, dan aku telah dibuatnya tak beradaya.

Aku berusaha memejamkan kedua mataku. Malam ini aku harus mengistirahatkan tubuh dan pikiranku sebelum kembali melakukan aktivitas esok hari.

Kriiiiiiinngggggggggggg…..

Mataku terbuka lebar karena terkejut dengan suara alarm dari ponselku. Aku beranjak dari tidurku siap-siap berwudu dan salat subuh.
Usai melaksanakan salat subuh, aku buka ponselku. Mengecek salah satu aplikasi yang saat ini masih banyak digu akan banyak orang (Whatsapp) tak lama kemudian ponselku berbunyi, bertanda ada notifikasi masuk, ternyata dia gadis yang selalu ku tunggu-tunggu pesannya. Namanya Alana, seorang gadis yang selalu berpikiran dewasa dengan wajah menggemaskan. Bagaimana aku tidak jatuh cinta?

Usai berkomunikasi dengannya aku pun bersiap-siap pergi ke-sekolah.

Dalam perjalanan menuju kelas, aku teringat saat saat berkomunikasi dengannya, aku tak bisa menjabarkan bagaimana perasaanku saat itu yang terpenting aku selalu bahagia meski Cuma sebatas bercakap santai dengannya. Terlalu lama sibuk dengan duniaku sendiri tiba-tiba seseorang mengejutkanku. Dia temanku, Genta namanya.

Genta : “Hey! senyum-senyum sendiri terus, hampir mirip orang gila. Ngapa sih??”

Zafran : “Wihhhhhhh, hampir aja jantung gue copot ta”

Genta : “Hehehehe (Genta ketawa) maaf-maaf, habis lu dari kemarin suka senyum-senyum sendiri. Kesambet di mana lu?”

Zafran : ” Taa,, gue gini-gini suka mikirin masa depan. Apa gue berhak untuk bahagia atau tidak. Gue cuma penasaran aja gimana kehidupan gue nanti dan bersama siapakah gue nanti menjalaninya”.

Genta : “Emmmmm.. kalau lu nanya sama gue, ya gue ngga tahu juga Zaf. Tapi lu harus yakin, bagaimanapun kehidupan yang akan datang, lu ga akan pernah kesulitan karena Tuhan selalu bersama kita. Yang bisa kita lakukan di kehidupan ini, melakukan apa yang menurut kita adalah versi terbaik, bersabar dan tawakal tentunya. Dan untuk pertanyaan lu itu akan terjawab suatu saat nanti Zaf”

Zafran : “Ok makasih Ta. Tapi ngomong-ngomong tumben lu jadi bijak gini” (Zafran terkekeh).
Genta melayangkan tinjunya ke bahu Zafran “Ellu mah” Mereka pun tertawa.

Sesampainya di rumah, Zafran merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menghela nafas panjang, kembali memikirkan hal yang sama seperti tadi yang ia renungkan di sekolah. Zafran kembali termenung sambil menikmati hidangan secangkir kopi dan rokok. Ia menjejalkan tangannya ke dalam tas ransel mencari ponselnya, setelah mendapati benda pipih tersebut seperti biasa Zafran memberi kabar kepada dia gadis bernama Alana. Sosok yang akhir akhir ini tak pernah beranjak dari pikirannya.

Tak dapat Zafran pungkiri, bahwa harapannya akan gadis itu kian membesar. Sehingga tiap kali berkomunikasi lewat jalur virtual dengannya ia seperti turut merasakan kehadirannya di dekatnya.
Sampai ketika teman dekatnya bernama Iyan mengirim pesan kepadanya.

IYAN
P

ZAFRAN
Ada apa Yan?

IYAN
Anda mengenal Alana?

Zafran mengerutkan keningnya mengenali sebuah perubahan pada Iyan.

ZAFRAN
Iya gue kenal

IYAN
Sebaiknya kamu jauhi Alana. Karena dia hanya mencintai saya.

Tubuh zafran membeku.

Mengapa cinta dan ketulusanku harus selalu berakhir dengan penghianatan? apa aku benar tidak pantas bahagia dalam hal ini Tuhan?

ZAFRAN
Oh baik, terima kasih infonya.

IYAN
Ok

Zafran kembali merenung. Ia bingung untuk selanjutnya langkah apa yang mesti ia tempuh? Yang bisa memberinya jaminan tidak lagi mengantarnya pada sebuah pengkhianatan.

Dua jam kemudian Zafran mencoba meredam emosi yang berbaur dalam dirinya. Ia menghela nafas sebelum memutuskan mengirimi Alana pesan.

ZAFRAN
Assalamu’alaikum

ALANA
Waalaikumsalam, ada apa Zaf?

ZAFRAN
Aku Cuma mau kamu jujur. Kamu sedang deket sama Iyan?

ALANA
Maksud kamu apa kok tiba-tiba bawa nama Iyan?

ZAFRAN
Dijawab saja. Benar atau tidak?!

ALANA
Akuuu sama sekali ga deket sama siapapun kecuali kamu Zaf.

ZAFRAN
Untuk saat ini aku Cuma butuh kejujuran dari kamu Al. Selain itu aku sudah tidak peduli lagi.

ALANA
Kamu kok tiba tiba gini sih Zaf.

ZAFRAN
Si Iyan tadi WA aku

Usai balasan terakhir dari zafran, Alana tidak kembali membalasnya untuk waktu yang cukup lama.

Barulah usai melaksanakan salat Asar Zafran mengecek ponselnya lagi, dan ternyata Alana sudah membalas pesan terakhirnya.

ALANA
Apa yang kamu katakan memang benar. Maaf Zaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi apa dayaku. Aku benar-benar minta maaf.

ZAFRAN
Oh, tidak masalah. Jadi mulai hari ini, detik ini juga sebaiknya kita tidak lagi berhubungan. Meski kamu tidak bermaksud menyakitiku tapi kamu perlu tahu bahwa aku sudah terluka.

ALANA
Jangan gitu dong Zaf. Maafin Aku!!!

ZAFRAN
Assalamualaikum Alana!

ALANA
“………” Stiker sedih dari Alana.

Usai percakapan singkat tersebut ia melemparkan ponselnya ke kasur. Ia duduk di sisi tempat tidur, meremas rambutnya kasar. Air mata perlahan mangalir di pipinya. Sedih, kecewa kedua hal tersebut mendominasi perasaannya saat ini.
Seandainya ia tak memberi ketulusan kapada orang disukainya, mungkin saat kembali dikhianati rasanya tak akan sesakit ini.

Harapan yang pernah membumbung tinggi harus musnah begitu saja. Biarlah ia mengalah. Karena egois bukanlah dirinya. Meski rasanya sulit setidaknya ia bisa berusaha berkorban demi teman sendiri (Iyan).

Kata terakhir Zafran, “Dulunya aku hanya mengenal warna biru, putih dan hitam. Tapi, semenjak kisahku penuh dengan masalah-masalah aku mulai mengenal indahnya berbagai macam warna.
Terimalah apa yang kamu alami saat ini atau pun di masa depan dengan lapang dada, tetaplah tersenyum walau dalam hal terburuk sekali pun. Karena dengan semua itu kamu akan mulai terbiasa dengan masalah masalah baru yang kamu alami. Sebab seseorang akan menjadi kuat karena pengalaman.

Masalah merupakan sebuah hal yang mengantar setiap orang menuju dewasa. Dan tentu menjadi dewasa tidaklah mudah, karena akan dituntut menjadi kuat, tangguh. Dan orang orang sukses banyak yang dilahirkan dari masalah masalah rumit”.

Salam Dari Zafran : “Jangan terbiasa bahagia di atas penderitaan orang lain “.

Penulis: Ach. Basri

* Ach. Basri, Pria asal Ellak Daya Lenteng Sumenep, kelahiran 29 Mei 2003. Mahasiswa aktif STKIP PGRI SUMENEP Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Semester 1.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here