
MEDIARETORIKA.com–Belakangan ini, STKIP PGRI Sumenep terus menerus menuai kecaman dari mahasiswa. Pasalnya, masih banyak janji yang belum terealisasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, kampus bertajuk Taneyan Lanjhang ini, menjanjikan akan beralih status menjadi universitas. Selain itu, juga menjamin kelulusan pendaftar beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Khususnya, bagi Mahasiswa Baru (Maba).
Sementara itu, hal demikian telah menjadi harapan besar bagi semua Maba kampus setempat. Namun, alih status universitas dan beasiswa KIP-K masih semu. Sehingga memicu kekecewaan mahasiswa.
Bahkan, promosi kampus mengenai mimpi go university hingga penjaminan beasiswa KIP-K itu, masih tetap didengungkan hingga sekarang. Tepatnya, saat melaksanakan sosialisasi penerimaan Maba.
Sebagai bukti, disampaikan langsung oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) semester 1. Menurutnya, sosialisasi serupa pernah dia terima saat masih berada di bangku sekolah.
“Saya pernah mendengar soal itu,” ungkap pria berinisial R, Selasa (29/11/22).
Pernyataan senada, juga disampaikan oleh mahasiswa PBSI semester 3 inisial I. Dirinya merasa sangat kecewa dengan janji yang diutarakan oleh pihak kampus. Menurutnya, langkah demikian perlu dievaluasi secara serius.
“Sebab kalau tidak, jargon maju dan berkembang dengan kualitas itu, tidak akan pernah terwujud. Saya sering diskusi (soal janji, Red) dengan teman-teman yang tidak lolos,” tandasnya.
Berkaitan dengan itu, mediaretorika.com menghubungi Waka II Bidang Administrasi Umum Agusriyanti Puspitorini. Menanggapi keluhan mahasiswa, dia mengatakan bahwa kampus sudah berusaha keras agar segera beralih status. Yakni, menjadi universitas. Namun, ada tahapan yang harus dilalui.
“Proses pengajuan universitas, secara sistem dan berkas sudah dilakukan mulai tahun 2021. Sampai saat ini kami masih menunggu hasilnya,” dalihnya.
Sedangkan mengenai penetapan nama penerima beasiswa KIP-K, menurut Agusriyanti, langsung ditentukan melalui aplikasi. Berkaitan dengan proses pendaftarannya, dilakukan langsung secara mandiri oleh mahasiswa.
“Masalah tahapannya langsung ke Waka III. Seperti proses, berkas, ataupun hal lainnya,” katanya, Rabu (30/11/22).
Berupaya mencari jawaban jelas, media ini juga mengkonfirmasi Waka III Bidang Kemahasiswaan Moh. Fauzi. Namun, yang bersangkutan enggan memberikan komentar. Tidak berhenti sampai di situ, Waka I Bidang Akademik Jamilah juga berusaha dihubungi melalui pesan WhatsApp.
Ternyata, dia juga tidak memberikan respon. Padahal, tanda pesan di aplikasi tersebut bertanda centang dua warna biru. Termasuk juga saat dihubungi melalui telpon seluler, Jamilah tidak mengangkat. Sementara nada tunggu, menunjukkan berdering berulang kali.
Reporter: Iqbal/Gusti
Redaktur: Rofi











