Puisi-puisi Zainuddin: Sumenep dan Kota Tua

0
2209
Photo by Java Travel

Sumenep dan Kota Tua

Bismillah menjadi ucap keajaiban yang menyimpan beribu cerita kesuksesan, takkan kalah oleh keadaan takkan menyerah oleh belati yang mengakar dialas kaki

Hidupkan hikayat puisi setiap untaian diksi
Ciptakan kedamaian ketentraman ditengah lorong kota tua berisi mobil pemeluk oligarki
Mereka mudah menelaah semua hak rakyat, lupa dan melupa pada kata yang terlontar mengandung janji

Bibir pantai diujung timur kota tua disulap menjadi kolam penguasa yang merampas hak rakyat dengan tawaran uang yang nyata dan pada akhirnya rakyat menjadi pekerja di negeri sendiri

Laut wisata kini tidak seindah seperti sedia kala lantaran banyak limbah yang menjadi hias keindahannya disebabkan oleh penguasa yang tidak pernah berfikir akan dampaknya.

Sumenep 22 mei 2023

Lantunan Estafet Gerakan

Nada itu bergemuruh di pinggir jalan trotoar dan depan penguasa kegelapan. Yang lupa pada jeritan dedemit di bawah kolong jembatan

Serakah itukah wahai penguasa kegelapan?
Dedemit dijadikan umpan para elit politik tuk lancarkan permainan

Tahmid takbir dan tahlil bergema di pinggir jalan
Lantunan ayat kebenaran menusuk gedung penguasa kegelapan
Gemparkan istana
Para penjilat bersembunyi digorong-gorong kebusukan hati dan otak licik. Diam dan tak peduli
Lantunan ayat ayat perjuangan dibiarkan terbang di atas atap saja
Lupa pada usia yang ingat hanya nikmat duniawi belaka

Estafet gerakan tetap berlanjut sampai tuhan berikan keajaiban dengan mengetuk kerasnya hari para penguasa kegelapan.

Ketika Malam Berbicara

Ketika malam Berbicara angin bisikkan rasa moksa raga penuh derita

Ketika malam berbicara
Izinkan aku menjadi pendengar baiknya

Ketika malam berbicara
Jiwa ini menjadi hening seketika

Ketika malam berbicara curhatkan keluh kesah yang ada bintangpun tersenyum padanya

Ketika malam berbicara angin berikan isyarat ketenangan untuk dengan kesunyiannya

Ketika malam berbicara
Akupun bertanya kepada awan tentang bintang yang jauh disana.

*Penulis bernama Ach Zainuddin lahir di desa yang indah dengan hiasan pohon kelapa, yaitu Desa Basoka, Kecamatan Rubaru. Sekarang sedang menempuh pendidikan Strata-1 di STKIP PGRI Sumenep. Tepatnya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI). Ia juga aktif di organisasi intra kampus LPM Retorika.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here