Kamilah Santri

0
845
Foto by Nuril S. Zaini

Santrikah kami wahai kiai? Wahai pengasuh kami?

Suatu kali yang lampau sekali
Kerumah besarmu yang terbuka ini
Dihantarkanlah kami oleh sepasang orang tua yang penuh cinta
Sebab setiap rumah sedang diterjang bencana amat besar, sehingga kami perlu diselamatkan ke tempat aman.

Kami yang masih belia hendak diselamatkan
Dari banjir kejahiliyahan, gempa kebodohan, dan asap gunung kecongkakan.
Dengan tangan terbuka dan pandangan tanpa curiga

Engkau terima kami semua.
Kau tampung kami semua yang sebenarnya
Adalah korban bencana guncangan budaya.

Kamilah santri! Santrikah kami wahai kiai?
Hingga bertahun-tahun belas kasihmu tiada berhenti Melindungi kami dari sergapan tuhan materi
Engkau memberi kami kemanusiaan yang sejati
Namun betapa batunya akal dan hati.

Setegar-tegarnya asuhanmu
Masihlah lebih keras dan gelap kalbuku.

Kamilah santri! Masihkah kami santri duhai kiai?
Setelah kini kami merasa pesantrenmu seperti rumah sendiri
Kami lakukan apapun yang nafsu kami perintahkan

Tidak lagi ingat dan berkesadaran
Bahwa di sini, di rumah sederhanamu ini
Bertahun kami menumpang makan,

Di sini, di rumah sederhanamu ini
Bertahun kami menumpang belajar,

Di sini, di rumah sederhanamu
Bertahun kami menumpang shalat,

Di sini, di rumah sederhanamu ini
Bertahun kami menumpang tidur,

Di sini, di rumah sederhanamu ini
Bertahun kami menumpang kencing,

Di sini, di rumah sederhanamu ini
Bertahun kami menumpang mandi,

Bahkan di sini, di rumah sederhanamu ini
Bertahun kami menumpang bertahi.

Dan engkau di dalam doa tengah malam hari masih menyebut kami santri, saat kami lupa bahwa pesantrenmu ini adalah dhâlemmu yang suci.

Kamilah santri! Benarkah kami santri duhai kiai?
Kami buta akan alamat cahaya yang kau bisikkan
Kami kira kesejatian bahagia adalah dunia
Padahal seperti yang kau teladankan dalam hidup keseharian

Bahwa dunia hanyalah sarana, cumalah masjid, hanyalah sajadah
Untuk sampai pada Allah
Yang Tunggal

Selama jiwa masih ditahan badan
Dan dalam doamu tengah malam hari masih menyebut kami santri.

Kamilah santri! Benarkah kami santri duhai kiai Kami belajar agama, sains, filsafat, dan seni
Lalu dengan kepandaian yang tak kepalang
Kami hujat kebaikanmu
Seolah keridhaanmu adalah tindakan jahat bagiku

Maka aku butuh hukumanmu, pengasuhku
Tamparlah mukaku
Ludahi mulutku
Injaklah dahiku
Benamkan kepalaku
Kuburkan seluruhnya aku,

Semoga Allah mengampuni kedhalimanku.
Semoga engkau senantiasa dilimpahiNya bahagia
Semoga kedua orang tua dibalasNya surga

Allah pasti sedang tersenyum melihat kekhusukan kalian merawat semesta

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Amin.

Annuqayah, 28 Januari 2020 m.

*Penulis merupakan salah satu alumni pondok pesantren Annuqayah. Saat ini berdomisili Rubaru.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here