Berita yang Tak Berani Terbit

0
226
Ilustrasi by Farel/Mediaretorika.com

Mentari pagi perlahan mengulurkan salam perpisahan kepada rembulan yang sejak tadi terlelap dalam kantuknya, seolah memberi isyarat bahwa sang surya telah bangkit menempati singgasananya di cakrawala.

Deru kendaraan pun mulai merambat di sudut-sudut pagi, menandai kembalinya denyut kehidupan mahasiswa. Tawa-tawa ringan berbaur dengan hiruk pikuk kampus, melukiskan wajah dunia akademik yang terus bergerak, mengikuti arus zaman dan modernitas.

Di depan meja kosong Devan duduk ditemani satu bungkus rokok dan selembar kertas list pertanyaan terhadap narasumber yang dia analisis secara mendalam, maklum hari ini dia mendapatkan tugas untuk wawancara terhadap ketua prodi yang dikenal ketus terhadap reporter.

Sambil menghisap rokoknya yang tinggal setengah, ia menatap dalam-dalam foto profil wa yang kontaknya dia dapat sepekan sebelumnya.

Devan selalu percaya bahwa hidup bisa dipahami jika seseorang cukup jujur membaca tanda-tandanya, Ia mengingat dan belajar hal itu dari dunia pers, dari data yang tak selalu benar, dari narasumber yang tak selalu tulus, dan dari fakta yang kadang disembunyikan oleh emosi manusia sendiri, namun, tidak ada satu pun pelajaran jurnalistik yang benar-benar mempersiapkannya untuk memahami perasaannya sendiri.

Terutama perasaan kepada pemilik nomer wa yang iya simpan dengan alunan nama indah, Eva El-fira yang akrab disapa Eva oleh teman sebayanya.

Awalnya sederhana. Terlalu sederhana untuk disebut awal dari sesuatu yang rumit. Eva hanya seorang junior di lingkungan yang sama aktif, tenang, dan tidak banyak bicara. Ia bukan tipikal orang yang mudah menarik perhatian, tapi justru disitulah letak asiknya, tanpa sadar Devan sering memperhatikannya.

Bukan karena paras. Bukan pula karena ambisi untuk memilikinya, ada ketenangan aneh dalam cara Eva berbicara yang tak ia temukan pada makhluk lainnya, Seolah ia tidak sedang berusaha mengesankan siapa pun.

Di ruang redaksi, Devan sering melihatnya duduk di sudut, membaca ulang catatan hariannya sambil menggigit ujung pulpen, tidak tergesa-gesa, tidak terganggu, juga tidak berisik, Dunia seakan mengecil saat Eva fokus pada sesuatu.

“Anak itu beda,” batin Devan suatu kali.

Namun ia tidak buru-buru menafsirkan apa pun, pengalaman mengajarkannya bahwa perasaan yang tumbuh tanpa diuji sering kali hanyalah ilusi.

___________

Setelah seharian bergelut dengan kegiatan pers, mulai dari wawancara, menulisnya menjadi berita dan mengikuti kajian rutinan Lpm yang cukup melelahkan, Devan berinisiatif untuk mengajak Eva pulang beriringan.

“Capek banget hari ini,” kata Devan, mencoba mencairkan suasana.

Eva mengangguk. “Iya sih kak tapi capeknya terbayarkan” ucap Eva dengan senyum manis lesung pipinya.

“Hah maksudnya?” Tanya Devan dengan mengernyitkan dahinya.

“Kajiannya kan seru, jadi capeknya hilang,” Ungkap Eva dengan nada menjelaskan diiringi tawa ringan.

“Kamu selalu bisa nemu sisi positifnya, ya?”

Eva tersenyum kecil. “Ya kan hidup memang harus gitu kak”.

Kalimat itu terdengar ringan, tapi entah kenapa membuat Devan ingin mengenalnya lebih jauh.

Sejak hari itu, percakapan kecil menjadi kebiasaan, Tentang tulisan, tentang diskusi, tentang idealisme, tentang kelelahan menjadi mahasiswa yang dituntut serba aktif, tidak intens, tapi konsisten, tidak romantis, tapi hangat.

Sampai pada satu titik, Devan menyadari sesuatu yang tak bisa lagi diabaikan ia menunggu pesan dari Eva, Bukan karena ada urusan penting hanya ingin tahu apakah hari inj Eva baik-baik saja dan itu membuat Devan gelisah.

Beberapa hari kemudian, setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Devan memutuskan untuk jujur, ia tak ingin perasaannya berubah menjadi beban diam-diam.

Mereka duduk berdua di taman kampus, senja turun perlahan, menyisakan cahaya jingga yang tenang.

“Aku mau ngomong sesuatu,” kata Devan.

Eva menoleh. “Kenapa nadanya serius banget kak?”

Devan menarik napas. “Aku ngerasa… aku suka sama kamu.”

Tidak ada musik, tidak ada efek dramatis, hanya angin sore dan detak jantung yang terlalu jelas terdengar.

Eva terdiam, detik terasa panjang, Devan hampir menyesal telah bicara.

“Aku juga… sebenernya ngerasa ada sesuatu kak,” jawab Eva akhirnya. “Tapi aku nggak mau buru-buru.”

Kalimat itu cukup untuk membuat Devan berharap, sejak hari itu, hubungan mereka berjalan di wilayah abu-abu, tidak pacaran, tidak juga sekadar teman, ada perhatian, ada tanya kabar, ada kekhawatiran kecil yang terasa hangat.

Namun perubahan datang perlahan, hampir tak terasa, balasan Eva mulai singkat, waktu bertemu makin jarang, jika dulu Eva menatap mata Elang Devan saat bicara, kini ia lebih sering menunduk, Devan mencoba berpikir rasional, mungkin dia sibuk, mungkin aku terlalu sensitif.

Namun pada satu malam, pesan itu datang.

“Kak Devan, kita ngobrol bentar besok ya.”

Jantungnya mengeras sekan dicor semin cap kaki lima.

_____________

Mereka bertemu keesokan harinya, di bangku yang sama seperti pertama kali Devan jujur.

“Ada apa?” tanya Devan, berusaha terdengar biasa.

Eva menunduk, tangannya saling menggenggam.

“Aku mikir banyak hal akhir-akhir ini,” katanya pelan.

“Dan aku ngerasa… mungkin kita cukup jadi senior dan junior aja ya kak.” Kalimat itu jatuh seperti hujan dingin.

Devan tidak langsung menjawab.

“Kenapa?” akhirnya ia bertanya.

“Bukan karena kakak kurang,” kata Eva cepat. “Kakak baik, kakak juga perhatian, tapi aku belum siap… dan aku nggak mau kakak berharap ke arah yang aku sendiri nggak yakin.”

Ada kejujuran di sana, tapi kejujuran tidak selalu menyelamatkan.

Devan mengangguk perlahan.

“Kalau itu keputusanmu, aku hormati.”

Eva menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi mengurungkannya.

Sejak hari itu, jarak resmi tercipta, mereka masih saling sapa. Masih satu ruang, Tapi ada garis tak kasat mata yang tak pernah dilewati lagi.

Malam-malam Devan diisi dengan tulisan yang tak pernah ia kirimkan, catatan tentang rasa, tentang manusia, tentang bagaimana logika sering kalah oleh harapan.

Sebagai mahasiswa pers, ia terbiasa mengolah fakta, tapi kali ini, ia tak tahu harus menempatkan perasaannya di rubrik mana.

____________

Di suatu malam yang indah, sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.

“Kak… kamu masih bangun?”

Jantung Devan berdegup keras.

Ia menatap layar lama sebelum menjawab.

“Masih. Kenapa?”

Tiga titik muncul, menghilang, muncul lagi,

Pesan itu akhirnya terkirim.

 

“Aku bingung sama perasaanku sendiri.” Pesan Eva terpampang jelas.

Devan menatap layar, dadanya terasa sesak.

Dan di sanalah cerita ini berhenti sementara

bukan karena selesai,

tetapi karena sesuatu yang jauh lebih rumit baru saja dimulai.

 

Penulis adalah Syaif_@zza yang sedang mencari apa itu makna kehidupan yang sebenarnya. Saat ini menggeluti jurnalistik sebagai pengurus di LPM Retorika UPI Sumenep.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here