Pembekalan Microteaching: Mahasiswa Duduk di Lantai dan Hanya Dapat Air, Warek I Imbau Memaklumi

0
130
TERPAKSA: Sejumlah mahasiswa angkatan 2023 FKIP UPI Sumenep terpaksa duduk di lantai saat pembekalan microteaching berlangsung karena kursi tidak mencukupi (Dok/Mediaretorika.com) Senin, (20/04/26).

MEDIARETORIKA.com–Kegiatan pembekalan microteaching angkatan 2023 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI (UPI) Sumenep yang berlangsung di Aula Lantai III kampus setempat, Senin (20/04/26), menyisakan kekecewaan bagi sebagian besar peserta.

Pasalnya, sejumlah Mahasiswa yang diwajibkan membayar Rp400 ribu mengaku dibuat kecewa dengan fasilitas yang dinilai kurang memadai.

Berita Terkait: Penarikan Biaya Microteaching UPI Sumenep Tuai Sorotan, Kebijakan Dinilai Tebang Pilih

Hal itu salah satunya dirasakan oleh Anwarul Mufid, mahasiswa Prodi PBSI angkatan 2023. Dia mengaku sempat tidak kebagian kursi dalam kegiatan itu, sampai akhirnya berinisiatif menggelar banner sebagai alas demi bisa duduk bersama teman-temannya.

“Bayar Rp400 ribu tapi banyak mahasiswa yang tidak kebagian kursi. Mahasiswa juga hanya diberikan air, mungkin airnya itu air dari Mekah atau dari sunan-sunan Wali Songo,” sindirnya.

Mahasiswa Prodi PBSI, Farichah Nur Akmaliyah, turut merasakan hal yang sama. Secara lugas, dirinya menuntut adanya transparansi anggaran.

“Saya menuntut rincian Rp400 ribu. Fasilitasnya kurang. Biaya sebesar itu hanya dapat air dan duduk di bawah, biaya tidak worth it” ungkapnya.

Serupa, Azer Ilham, mahasiswa PBSI 2023, menyatakan tidak akan membayar sebelum ada kejelasan penggunaan anggaran.

“Pokoknya saya tidak mau bayar kalau tidak ada transparansinya. Microteaching juga termasuk mata kuliah, di antara kita yang non-KIP juga sudah bayar UKT, kenapa masih harus bayar lagi?,” ungkapnya getir.

Hal senada turut disuarakan oleh Acha, mahasiswi non-KIP Prodi BK. Dengan biaya yang dinilai cukup tinggi, dirinya menyayangkan dengan tidak adanya konsumsi yang diberikan.

“Sayangnya tidak ada konsumsi, hanya air saja. Padahal, roti 10 bal tidak sampai Rp.100 ribu,” keluhnya.

Di tengah situasi tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik UPI Sumenep, Suhartatik, meminta mahasiswa untuk memaklumi kondisi yang ada. Dalam sambutannya, dirinya menyebut situasi tersebut sebagai fenomena yang harus dinikmati bersama.

“Situasi dan kondisi saat ini, teman-teman juga harus bisa memaklumi. Kita baru memulai menjadi sebuah universitas. Mungkin sekarang anda duduk di bawah, tapi saat anda mengingat momen itu, anda sudah menjadi orang sukses. Sekali lagi, kesuksesan itu tidak instan,” tuturnya di hadapan ratusan mahasiswa yang sebagian duduk di bawah.

Berita sebelumnya: BEM UPI Sumenep Soroti Biaya Microteaching Rp400 Ribu, Dinilai Mendadak dan Tak Transparan

Presma UPI Sumenep, Moh. Nurul Hidayatullah, yang sebelumnya telah angkat bicara soal polemik ini, menegaskan bahwa transparansi anggaran adalah hak mahasiswa yang tidak boleh diabaikan.

“Mahasiswa harus tahu. Jumlah nominal Rp.400 ribu itu bukan sedikit. Tidak ada pemberitahuan di awal bahwa microteaching ini akan dikenakan biaya. Dari pertama edaran yang mendadak, kedua dengan tidak adanya transparansi,” pungkasnya.

 

Reporter: Dita

Editor: Andi

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here