Perempuan yang Berhati Malaikat

0
30
Ilustrasi by Farel (Mediaretorika.com)

“Kau bisa memilih perempuan yang kaya dan tercantik di kota ini, tidak harus dia,” pinta Rahmon kepada adiknya.

“Benar, kita adalah keluarga terpandang, jangan kau buat pilihan yang menjatuhkan martabat keluarga,” sambung Toni, kakak pertamanya.

Raisyad diam mematung tanpa berkata sepatah pun namun ia tidak mengira Papa, Mama, maupun seluruh saudaranya memandang kekasihnya dengan begitu rendah. Menurutnya mereka seharusnya tak patut bersikap demikian apalagi segalanya yang dimiliki adalah warisan kakek neneknya.

“Kau kan bisa mencari perempuan yang sederajad denganmu, Yad. Bukan perempuan yang tidak jelas asal usulnya,” tambah kakaknya yang lain.

“Cukup, Kak,” bentak Raisyad.

Ruangan itu sekejap menjadi hening, Raisyad beranjak pergi.

“Baru kali ini dia berani melawan, pasti karena pengaruh perempuan itu,” ujar Toni.

“Kalian juga salah, Raisyad bukan anak kecil lagi. Jadi, kita harus lebih sabar menghadapinya,” kata Iriana, Mama Raisyad.

“Mama harus tanggung jawab, gara-gara Mama, Raisyad salah memilih,” sambung Rahmon.

“Aku akan bicara empat mata dengannya,” balas Iriana.

Setelah kejadian itu. Raisyad tetap teguh dengan pendiriannya. Bahkan ia ingin dengan segera meminang Maliya meskipun penolakan demi penolakan seperti batu karang yang tak lekang oleh ombak. Maliya, seorang gadis yang terlahir yatim piatu, kenalannya saat masih berstatus mahasiswa. Bumbu-bumbu cinta berawal saat gadis itu menolak mentah-mentah perintah untuk mencari sepuluh semut saat kegiatan orientasi mahasiswa baru. Dengan tegas dan tanpa basa-basi Maliya mengatakan tidak karena permintaannya tidak dapat diterima oleh akal sehat. Sebagai ketua badan eksekutif mahasiswa yang disegani. Raisyad bukan malah merasa telah dipermalukan melainkan ia menaruh hati kepadanya. Sejak saat itu Raisyad berusaha meluluhkan hati Maliya, selain memang perempuan itu memiliki paras yang cantik. Di atas selembar kertas yang berisi perjanjian. Maliya menerima cintanya.

Latar belakangnya yang demikian menjadi alasan bagi keluarga Raisyad untuk menolak walaupun ia dikenal sebagai mahasiswi yang aktif dan berprestasi.

“Mas, bagaimana jika orang tuamu tetap tidak merestui hubungan ini,” tanya Maliya.

“Maliya, andaikan malaikat pun menghalangi, aku tidak akan mundur,” jawab Raisyad dengan mengulum senyum.

“Aku serius,” sambung Maliya.

“Apa kau kira aku tidak serius,” tegas Rasiyad.

“Tapi, memang kenyataannya begitu, kau berasal dari orang tua yang kaya, saudaramu kaya, kakek nenekmu kaya, semuanya,” ujar Maliya yang tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi.

“Apa kau pikir itu bisa membuatku bahagia? Maliya, asal kau tau aku sudah mantap dengan pilihanku, kamu adalah pilihan yang terbaik, kamu perempuan yang ideal untuk menjadi seorang ibu yang akan melahirkan anak-anak yang hebat,” papar Raisyad.

“Lalu, apa langkah Mas Raisyad selanjutnya?” tanya Maliya.

“Aku akan berusaha meyakinkan Papa dan Mama lagi, kamu tidak perlu cemas,” jawabnya.

Maliya kehabisan akal untuk menyudahi hubungannya. Memang selain Raisyad berasal dari keluarga yang kaya, dia termasuk laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat perhatian. Dan tak jarang juga ia sering menghibur anak panti dengan cerita lucunya. Setiap kali Raisyad tertawa bersama adik-adik pantinya, cintanya semakin menggalaksi namun ia sadar bahwa perasaannya yang semakin membukit bisa jadi erosi yang akan menguburkan harapannya.

“Maliya, Maaf aku harus segera ke rumah sakit, tadi Papa ku menelvon, Mama mengalami pendarahan”.

“Astagfirullah, Aku ikut ya,” pinta Maliya.

“Jangan, kamu gantikan aku untuk mendongeng hari ini. Aku sudah janji ke adik-adik,” jawabnya.

“Baiklah.”

Selama berpacaran dengan Maliya, ia enggan mencium kening pujaannya. Dia menyadari betul bahwa selain terikat janji ia tidak ingin hubungannya ternodai. Itu juga yang membuat Maliya mengaggumi sosok calon imamnya itu.

“Raisyad, sudahi hubunganmu dengannya,” ujar Kakaknya Toni.

Langkah Raisyad yang baru saja tiba di rumah sakit seketika dihadang dengan kalimat yang Toni tau betul itu akan membuat Raisyad naik pitam.

“Maksud, kakak apa? Apa aku dulu pernah ikut campur dalam urusan pilihan kakak. Aku tau mana perempuan yang terbaik untuk masa depanku,” tegas Raisyad.

“Masa depan apa dengan perempuan miskin begitu,” sambungnya.

“Sudah, sekali kau menghina Maliya, selamanya aku tidak akan menggangap dirimu sebagai kakakku.”

“Raisyad, kau dibutakan oleh cinta,” balas Liah kakaknya yang lain.

“Dari pada kalian dibutakan oleh harta,” tegas Raisyad.

Papanya mencoba melerai pertengkaran sengit itu

“Bisa-bisanya kalian ribut disaat kondisi begini,” bentak Jasman.

“Dokter, bagaimana dengan kondisi Mama kami” tanya Raisyad.

“Kami akan usahakan yang terbaik, tapi kami perlu bantuan,” ujar dokter.

“Apa? Dok,” kata Toni.

“Tolong segera carikan pendonor,” pinta dokter.

“Maksud Dokter?” tanya Raisyad.

“Golongan darah ibu kalian “B Rhesus negatif” termasuk kategori langka jadi kami belum bisa dengan cepat mendapatkannya.”

“Kalau begitu, saya siap, dok” pinta Raisyad.

“Raisyad apa kau lupa? diantara kita tidak ada yang sama dengan Mama.”

“Saya butuh cepat, karena kondisi pasien kritis sekali.”

Raisyad melirik ke arah kakak-kakak iparnya

“Kami takut dengan darah, lagian kami bukan yang dimaksud oleh dokter.”.

“Sudah aku duga,” ujar Raisyad.

“Maksud kamu apa? Yad.”

“Sudah, kita carikan solusinya sekarang.”

“Hari ini upayakan pendonornya sudah ada,” pinta dokter.

Tanpa berfikir Panjang lagi, Raisyad masuk ke kamar ICU. Disana terlihat dua selang di hidung mamanya.

“Mama,” ujar Raisyad setelah mencium pipinya. Kemudian dia beranjak pergi.

“Hari ini aku tidak bisa kembali ke Panti dan mungkin beberapa hari kedepan aku tidak bisa menemuimu Maliya,” ujar Rasiyad.

“Ada apa? Mas, Apa salah ku?” tanya Maliya.

“Kamu tidak salah apa-apa, hanya saja mama sedang membutuhkan aku,”

“Barangkali aku bisa membantumu Mas,” pinta Maliya.

“Cukup aku saja.”

“Mas, aku.”

“Sudah, aku tidak punya banyak waktu.”

Percakapan mereka seketika berhenti. Mendengar kabar kalau calon mertuanya itu dalam kondisi tidak baik-baik saja, Maliya berusaha mencari tau rumah sakitnya.

“Permisi, Mbak apa di rumah sakit ini ada pasien yang bernama Ibu Iriana?”

“Maaf ada perlu apa ya, Mbk?.”

“Saya dapat info kalau pasien dalam keadaan kritis.”

“Betul sekali, sampai hari ini belum ada pendonornya?.”

“Apa saya bisa menemui dokter yang menanganinya?.”

“Mbak langsung menemui dokter Sofyan di ruangannya.”

“Golongan darah ibu Iriana tergolong langka sekali,” ujar Dokter.

“Tolong, Dok. Pasien yang di rawat itu ibu saya,” ujar Maliya.

“Baik kalau begitu saya coba check dulu darah adik.”

Dokter Sofyan terkejut setelah mengetahui hasilnya.

“Permisi, Ibu Iriana sudah siuman,”

“Ha, Dok yang benar? Alhamdulillah.”

“Ibu Iriana minta bertemu dengan saudara Raisyad,” kata Dokter.

“Biar Papa yang televon Raisyad.”

Beberapa menit kemudian Rasiyad sudah tiba.

“Yad. Inget turuti semua permintaan Mamamu,” pinta Papanya.

“Ma,” kata Raisyad

“Raisyad, Apa kau serius dengan Maliya?” tanya Iriana.

Raisyad mengangguk pelan.

“Kalau dia memang perempuan yang kau anggap tepat untuk bahteramu, Mama merestui” kata Iriana.

“Ma,” ujar Raisyad yang bergelimang air mata.

“Dok, di mana ruangan pasien yang membantu ibu kami,” tanya Toni.

“Saya kira dia adik kamu, di ruangan B6, dia perlu banyak istirahat karena sebenarnya dia memaksakan dirinya untuk menjadi pendonor.”

Jasman, Toni, Rahmon dan Liah terkejut karena ternyata orang yang mendonorkan darah adalah Maliya, perempuan yang selama ini mereka hina.

“Ternyata dia perempuan yang berhati malaikat,” ujar Liah.

“Benar, kita sudah salah menilainya” sambung Toni.

“Papa setuju dia dengan Raisyad.”

Tak hanya itu Maliya dipegang erat tangannya oleh Aliya, bahkan dengan sikap kerendahan hatinya ia menciumnya.

“Maafkan kami Maliya, terima kasih sudah menyelamatkan Mama kami.”

 

 

 

 

Nama saya Mastuki, Seorang Guru di Sekolah Swasta kabupaten Kutai Timur. Sampai hari ini saya telah menerbitkan 4 buku dan 1 antologi bersama. Moto hidup saya “ Pembelajar Sepanjang Hayat”. Buku terbaru yang saya tulis “Canda Tawa Santri di Teras Pesantren”. Perkenalan saya dengan dunia kepenulisan bermula saat saya berjumpa dengan pemikiran tokoh-tokoh dunia seperti Agust comte, Aristoteles, Plato, dan sekawanannya melalui komunitas kajian diskusi di UIN Khas Jember. Demikianlah bionarasi singkat saya. Barangkali ingin berkenalan dengan saya lebih lanjut silahkan bisa dikontak melalui mastukitjokroaminoto@gmail.com / 081333323109

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here