Setiap rebas-rebas memeluk pepohonan
Pelan-pelan warna permukaan makin pekat
Petrikor menjalar ke segala sudut kota
Yang cerewet tanpa bisa kita tolak.
Kita dikelilingi bermacam wajah
Yang bersembunyi di mulutnya
Kapan saja dengan tiba-tiba bicara cinta
Di samping kita menekuni kehampaan diri.
Sementara di jalanan
Kubangan gerimis melukis mangata
Mendekati bayangan cita-cita di tubuh
Yang mencintai sisa waktu dan mengasihi nasib.
Kita berkeliling pada kepala sendiri
Mencari bagaimana cara kerja hidup
Dan menyulut cinta tanpa redup.
31 Desember 2021
*Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karya-karyanya telah diterbitkan di berbagai media online dan cetak.












