Dendam dibalik Kepak Sayap Gelap

0
474
Ilustrasi Dendam dibalik Kepak Gelap. Sumber Foto : JosepMonter from Pixabay

Oleh : Pimred

Desa Karanganyar terletak di antara lebatnya hutan bambu yang selalu bergemerisik ditiup angin malam. Sejak kecil, Rara sering mendengar cerita tentang “Hantu Kalong”, arwah penasaran yang menjelma sebagai kelelawar raksasa dengan mata merah menyala. Konon, ia muncul setiap bulan purnama, membawa kabar kematian bagi yang berani menatapnya. Tapi bagi Rara, itu hanya dongeng pengantar tidur. Sampai suatu hari, ia pulang ke kampung halaman setelah ayahnya meninggal secara misterius.

*******

Rara tiba di rumah kayu tua itu saat senja mulai merayap. Udara lembap menusuk tulang. Di beranda, ibunya duduk memandang hutan dengan tatapan kosong. “Jangan keluar malam ini, Nak,” bisiknya tiba-tiba. “Ayahmu… dia tidak mati karena sakit.”

Sebelum Rara bertanya, teriakan pecah dari ujung desa. Warga berkerumun di depan rumah Pak Joko, sesosok tubuh tergeletak di tanah dengan leher berlubang seperti cakaran binatang. “Hantu kalong!” seseorang berteriak. Rara menggigit bibir. “Masuk akalkah?”

Malam itu, ia memutuskan menyelidiki. Dengan senter dan pisau kecil peninggalan ayah, Rara menyusuri jalan setapak menuju hutan. Bulan purnama menggantung sempurna, membayangi kepakan sayap-sayap gelap di atasnya. Tiba-tiba, udara menjadi dingin. Suara decap sayap besar mendekat. Dari kegelapan, dua titik merah muncul dan membara.

“Krrrkkk!”

Rara terjatuh, senter terlempar. Sesosok bayangan raksasa menukik ke arahnya. Ia mengacungkan pisau, namun tangannya gemetar. Saat bayangan itu hampir menyentuh wajahnya, cahaya bulan menyinari ukiran di gagang pisau, simbol yang sama dengan lukisan di buku harian ayahnya.

*******

“Kau tidak seharusnya datang ke sini.”

Suara itu parau, seperti gesekan daun kering. Rara membuka mata. Di depannya berdiri lelaki tua berpakaian lusuh, wajahnya setengah tertutup bayangan. “Siapa Anda?” tanya Rara siap menerkam.

“Kau mirip ayahmu. Dia juga keras kepala.” Lelaki itu menghela napas. “Dia bukan pembunuh, Nak. Tapi warga butuh kambing hitam saat hantu kalong pertama kali muncul 20 tahun lalu.”

Rara tercekat. Ayahnya pernah bercerita tentang wabah misterius yang membuat warga gila dan bunuh diri. Tapi tak pernah ia sangka, ayahnya dituduh memanggil hantu itu karena ilmu hitam.

“Kenapa hantu itu kembali sekarang?” desak Rara.

Lelaki tua itu menunjuk pisau di tangannya. “Karena kau membawa kembali pisau pamungkas ini. Arwah ayahmu… terjebak di antara dunia. Hantu kalong adalah kutukannya.”

*******

Angin menderu. Rara berlari ke tengah hutan, di mana pohon beringin tua menjulang. Di bawahnya, tanah basah berbau anyir. Dengan gemetar, ia menancapkan pisau itu ke akar pohon. “Ayah… aku tahu kau tidak jahat!” teriaknya.

Mendengar itu, suara melengking memenuhi udara. Kelelawar raksasa muncul tapi kali ini matanya tidak merah, biru pucat seperti nyala api yang tenang. Sosok itu berubah wujud menjadi bayangan manusia.

“Maafkan aku, Rara,” suhunya bergetar. “Aku hanya ingin melindungimu dari kutukan keluarga kita.”

Dengan air mata, Rara mengulurkan tangan. Bayangan itu memudar, meninggalkan bulu kelelawar hitam yang berubah menjadi debu. Pagi menjelang, dan untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Desa Karanganyar terbebas dari kepak sayap gelap.

*******

Esoknya, Rara menemukan surat di laci ayahnya “Kutukan ini dimulai saat kakekmu membunuh kalong sakti penjaga hutan. Hanya pengorbanan cinta yang bisa mengakhirinya.”

Ia tersenyum getir. Ayahnya telah mengorbankan nama baiknya untuk menahan kutukan dan kini, Rara tahu tugasnya. Menjadi penjaga baru yang tak terlihat, menjinakkan dendam yang tertiup angin malam.

 

Penulis merupakan sosok bocah ingusan pada tahun 2018. Untuk mengenang masa kecilnya, ia tulis kembali arsip cerpen miliknya di masa tua (2025).

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here