Media Sosial: Mencandu Tak Harus Merusak

0
1064
Penulis: Akhidatul Avida, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP PGRI Sumenep, Semester II

Oleh : Akhidatul Avida

Bukannya mau menjadi orang yang sok kritis dan sok suci. Rasanya akhir-akhir ini sudah mulai tak asing lagi, semakin kesini semakin gaduh dan membuat kebingungan. Bukan sekedar fenomena biasa, caci maki menjadi hobi yang paling disenangi bagi mereka yang selalu menghakimi, bukan empati maupun simpati yang mereka tunjukkan melainkan nyinyiran dan sindiran yang terkadang tak kalah dari hukum adat yang terkenal lebih kejam dari pada hukum negara. Hidup ditengah-tengah situasi seperti ini memang tidak mudah, ini hanya sedikit kisah tentang kehidupan, bukan persoalan para elit politik maupun para pemegang kekuasaan.

Sedikit keluh kesah menanggapi artikel dari VOI.id yang baru-baru ini sedang viral, hangat diperbincangkan, dan dipertanyakan kebenarannya. Tidak lain dan tida bukan tentang keramahan rakyat Indonesia, dalam artikel itu dijelaskan bahwasanya keramahan rakyat Indonesia terutama warga internet (warganet) sangatlah buruk, survey yang dilakukan Microsoft menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat 29 dari 32 negara, secara tidak langsung Indonesia dinyatakan sebagai peringkat ke 4 negara dengan tingkat kesopanan warganetnya paling rendah. Sungguh prestasi yang tidak bisa dibangggakan, budaya Indonesia yang kental akan keramahan seakan-akan habis rata dengan survey itu. Dari dulu kesopanan dan keramahan selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi Indonesia untuk menarik daya minat para pelancong untuk datang mengunjungi negara ini terlebih karena hal itu emang benar adanya. Lantas apakah globalisasi terutama dalam hal penggunaan media sosial memiliki pengaruh terbesar dalam perubahan perilaku ini? Semula sopan dan ramah menjadi cyber bullying atau penjahat internet. Miris bukan? Inilah fenomena yang terjadi belakangan ini.

Media sosial menjadi tempat ternyaman untuk menyakiti satu sama lain, egois, keras kepala menjadi bagian yang tidak terlepas dari beberapa postingan status atau kolom komentar yang mereka tulis. Sehingga berada pada titik sebagaiamana kualiatas ukuran keramahan rakyat Indonesia diukur dari sana. Lalu apakah kita benar-benar tidak ramah?, jawabannya tentu tidak. Sebuah budaya hadir dari kebiasaan intraksi secara langsung yang mengandung etika, sehingga kebiasaan ini terus berlangsung panjang dengan menjungjung etika itu sendiri. Maka apa yang kita lihat dimedia sosial belum tentu sebuah kebenaran yang memang benar adanya, hanya saja terkadang beberapa orang terlalu fanatik dengan apa yang dipercainya sehingga cendrung lebih egois dari pada aslinya dan bisa jadi apa yang mereka tulis merupakan bentuk dari eksistensi mereka dengan mentuhankan media sosial. Mengingat lirik lagu Feast yang berjudul Dalam Hitungan, “kehidupan dibenahi arahan redaksi, kematian disiarkan Instagram TV, nyanyian pujian yang termatrikulasi, sangkakala seindah bunyi notifikasi”. Segala sesuatunya harus media sosial, candu inilah yang membuat kita terlalu menuhankan media sosial dimana keluh kesah, rasa senang yang dibagikan karena rasa iseng ingin berbagi malah menjadi bahan untuk dicaci maki.

Lucu, bahkan bisa dibilang aneh, tetapi inilah permasalahan yang sekarang sering terjadi tidak ada yang sebenarnya tidak ada yang bersungguh-sungguh didalam dunia maya tetapi karena menuhankan jadi membenarkan segalanya. Kebenaran itu sebenarnya relatif tetapi karena kita tidak memiliki rasa skeptis maka akhirnya menuduh, memaksakan kehendak kita terhadap orang lain yang terkadang belum tentu kebenaran yang mereka percayai sama dengan apa yang kita percayai. Kita terlalu asik mencampuri urusan orang lain. Walaupun pada dasarnya kita tidak mengenal dan mengetahui sebeluk-beluk orang itu.

Melihat dari sudut pandang yang sempit sehingga salah dan benar hanya dirinyalah yang berhak memutuskan. Lagi-lagi bukannya diri ini merasa suci hanya saja merasa miris dengan fenomena ini, generasi muda yang katanya calon penerus bangsa tetapi mengapa begini?, dan anehnya yang tersorot bukanlah pencapaian atau prestasi para generasi muda melainkan keburukan yang membuat jati diri bangsa hilang. Akankah hal ini terus berlanjut atau adakah dari kalian yang sedikit sadar?. Lagi-lagi bukan untuk menggurui hanya ingin sedikit berkeluh-kesah. Mari ubahlah pola pikir kita, saat ini media sosial bukan ajang untuk pamer keegoisan, melainkan tempat untuk kalian berpendapat, dan kritis bukan untuk menjatuhkan melainkan untuk membangun suatu peradaban dengan teknologi yang ada. Maka selaku generasi muda yang kreatif bijaklah dalam mencandu media sosial.

*Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Prodi PBSI, Semester II

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here