Ego: Berpikir dengan Sederhana

0
933
Ilustrasi by adobe stock

Oleh: Akhidatul Avida

Di penghujung tahun ini setidaknya saya meninggalkan jejak. Corat-coret yang kalian baca saat ini, merupakan ihwal kembalinya saya dari Nirwana. Berkelana terlalu jauh, sempat mati rasa. Lupa gelora dari letupan hati kecil ketika saya melihat fenomena yang janggal. Masih mencari sebuah arti kebebasan untuk mengkultus diri saya sebagai orang yang tidak memiliki kepentingan yang bersifat pragmatis. Lucunya, ternyata ini hanya akal-akalan saya.

Maka dari itu, perlu adanya penanda tebal untuk menekankan alasan klasik ini cukup signifikan. Hilangnya saya dari peradaban sebenarnaya meramu jiwa, membuka jalan untuk menyelesaikan enigma yang membelenggu dalam kepala. Saat ini, sedikit kesadaran kembali menghampiri. Terputarnya memori sepenggal kisah dari tokoh pewayangan, yaitu Bima salah satu Pandawa dengan kisah keberhasilannya menjumpai manifesto dari Tuhannya yaitu Dewa Ruci. Jangan terlalu serius dulu, tulisan ini tidak akan membahas tentang akidah tetapi pemaknaan terhadap proses pertemuan itu. Perihal tentang mengapa dan bagaimana.

Kisah yang menarik saya untuk kembali merasakan gejolak itu lagi. Mbah Tejo memberikan judul sub bab buku itu #Dewa Ruci. Tumbuh besar dengan kisah pewayangan membuncahkan keinginan saya untuk mengulas kisahnya dalam corat-coret kali ini. Sebagai murid yang membaktikan diri kepada Sang guru Durna, diiringi dengan tangis sang ibu kunti Bima melalukan tugas dari sang guru untuk menyelami ganasnya Samudra Selatan. Benar apa yang dikatakan Prabu Kresna, hanya doa yang bisa melindungi Bima.

Perjalanan mencari Tirta Amerta tidaklah sepenuhnya mulus. Layaknya orang hidup yang sedang mencari kedamaian akan dia uji betapa lihainya kita untuk mengolah sifat yang tidak semestinya. Tidak jauh berbeda sebagi manusia Bima juga memiliki rasa sombong dan angkuh yang terlalu hal itu dibuktikan dengana ujian dari Hanuman. Namun ternyata hal itulah yang membuat keyakinan Bima semakin kuat untuk melakukan niatnya, dengan menyadari bahwa ia harus meleburkan sifat angkuhnya dan kini ia juga bertekad apapun yang diinginkan Durna dalam tugas ini. Biarlah dia yang menanggung semuanya, karena yang terpenting ia yakin dengan apa yang dilakukan merupakan bentuk pengabdiannya kepada Sang Guru.

Tuturan itu belum selesai di sana, Hanuman masih meminta bukti nyata dari keyakinan Bima melalui tindakannya dibuktikan kesedian Bima untuk berduel. Tidak ada menang atau kalah. Kala itu Semar hadir untuk melerai. Meminta Hanuman untuk mebiarkan Bima agar bisa melanjutkan perjalanannya. Sesampainya ke dasar laut kenahasan Bima kembali, dililitnya ia oleh seekor ular naga yang membuat ia seperti ada dan tiada. Teringatnya Bima dengan kuku pancana meloloskan ia dari maut. Ular naga lenyap tergantikan dengan sosok kecil mirip Bima, dipintanya Bima untuk masuk kepada tubuhnya. Bima menanggapi kemustahilan tersebut. Bagaimana bisa tubuh besar Bima bisa muat ke tubuh bocah kecil itu.

Tidak berlama-lama sosok tubuh kecil itu pun berkata jika Bima bisa mengenali dirinya sendiri maka seluruh semesta pun akan ia kenali. Bima yang penasaran kembali menanyakan siapakah sosok ini, dijawabnya dialah Dewa Ruci dan tanpa babibu Bima pun menyembah.

Di dalam sejarah, kisah hidupnya ini baru pertama kalinya ia menyembah, tak pernah ia lakukan sembah kepada siapapun. Namun, kini ia menyembah. Dewa Ruci membeberkan alasan mengapa Bima yang bisa bertemu dengan Tuhan, bukan Kresna, bukan Yudistira si ahli sembahyang, bukan pula si ahli tapa Arjuna. Alasannya cukup sederhana, semua itu karena Bima tidak pernah menyembah siapapun, Bima selalu berbicara ngoko (tingkatan bahasa jawa terendah) kepada siapapun, alasan yang paling final karena Bima tidak munafik.

Itulah kisah Bima yang biasa-biasa saja, keberuntungan yang ia miliki karena keyakinannya yang luar biasa. Niat dan tekat yang kuat bisa menepihkan batu kerikil, dan semak belukar dalam jalan yang ia pilih. Setiap orang bebas memiliki menyakini apapun, begitupun dirinya. Kita sebagai manusia terkadang lupa dengan niat awal, karena tidak sedikit di dalam menjejahi setiap proses yang dilalui kita akan menemukan beberapa hal yang bisa menggoyahkan keyakinan kita. Kisah Bima ini setidaknya telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara mengontrol diri, mengenali diri, dan keyakinan yang penuh.

Sekarang saatnya kita akui bersama, dalam setiap lini kehidupan ini jarang sekali merasakan keyakinan yang seperti itu. Gelombang dan arus selalu membawa kita terombang-ambing, mengikis sedikit demi sedikit keyakinan kita dan kemunafikan pun semakin merajarela. Hal ini sering terjadi karena kita tidak seperti Bima yang bisa ngomong Juaaaaancuk! Ini pemaknaan sederhana saya terhadap kisah ini. Namun, saya yakin para pembaca mampu memaknai lebih kisah ini. Nosce te ipsum! dari pintu gerbang kuil Apollo di Delfi.

*Penulis adalah Subadra yang selalu belajar dan memahami berbagai perspektif dari Sang Arjuna yang gemar menyisihkan waktunya bergumul dengan buku Jokpin, senang menjelajah Soe Hok Gie dan Minke dari Bumi Manusia.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here